Pengeluaranku untuk berbicara dengannya kuanggap sebagai upaya penghamburan uang untuk sebuah kepuasan. Ya, walau hanya berbicara dengannya, tapi ada rasa nyaman karena aku bisa berbagi cerita dengan seseorang tanpa ada upaya untuk menjerat hatinya. Segala keburukanku pun sudah diketahui olehnya, dan dia tetap bisa berteman denganku. Aku ingat ucapannya, pada dasarnya dalam diri manusia ada sisi baik dan jahatnya, tergantung manusia itu sendiri menonjolkan sisi mana dari dirinya. Tanpa aku sadari, pelan-pelan dia menjadi malaikat dalam kisah kehidupanku.
Malam-malam yang kulewati dengan mendengar suaranya membuatku melalui hari dengan begitu cepat. Tak terasa, waktu yang kuukir bersamanya membuatku terperangkap dalam kenikmatan. Suaranya menjadi semangat untuk melalui hari-hariku, bersamanya, aku tak merasa sendiri. Entah pembicaraan apa yang selalu kami bagi berdua. Kegiatanku sehari-hari, cerita masa laluku, pemikiran dan impianku, semua kubagikan untuknya. Dia, selalu menjadi seorang pendengar setia, penghibur dikala aku sedih dan sepi, penyemangat dikala aku terpuruk, dan pembicara dikala aku membutuhkan cerita.
Roda kehidupan pada akhirnya selalu berputar, rasa nyaman yang aku miliki selama bersamanya mencapai sebuah titik terendah. Aku mengucapkan sebuah kalimat yang ternyata begitu menyakiti hatinya. Kalimat yang kulontarkan hanya untuk membuat tawa hadir di sela pembicaraan kami. Aku merasa tak ada perbedaan ucapanku kali ini dengan biasanya. Kenapa dia malah marah dan memintaku untuk tak lagi berbicara dengannya jika aku tak merubah sikapku? Selama ini dia bisa menerima aku yang apa adanya. Kenapa?
Malam-malam tanpa bicara dengannya, tanpa bercanda dengannya membuatku terperangkap dalam rasa sepi yang berkepanjangan. Tanpa kusadari dia telah masuk ke dalam hatiku, dan sekarang, dia telah membuat keretakan di sana sini pada hatiku. Ingin aku membencinya, tapi apa rasa benci itu bisa mengembalikan keretakan menjadi utuh? Aku rasa tidak. Apa benar jika aku mempersalahkan dia karena dia yang tak bisa menerimaku apa adanya seperti dulu, atau aku yang mulai keterlaluan?
Kurebahkan tubuhku di atas kasur single tempatku melepas lelah. Aku menerawang, memusatkan pikiranku yang berkecamuk mengenai dirinya. Sebenarnya apa dirinya bagiku? Apa arti kehadirannya dalam hidupku? Setelah dia tak lagi menerima aku yang seperti ini, apa aku harus menganggapnya sebagai malaikat pencabut nyawaku? Malaikat jahat yang telah berpura-pura manis dan masuk ke dalam hatiku, kemudian dengan kejamnya mengoyak hatiku hingga tak lagi berbentuk.
Kehilangannya membuatku sedikit terpuruk. Ya, Cuma sedikit, tidak akan ku akui betapa dalamnya luka yang dia torehkan. Walaupun pada kenyataannya, malam-malam yang kulalui kini penuh dengan lamunan dan kebingungan. Tanpa dirinya, kurasakan sendiri, aku, dengan sikap yang seperti ini, telah kehilangan teman begitu lama, jauh dari keluarga. Aku hanya berusaha menjaga diriku. Tidak ingin terluka, hanya menorehkan luka di hati orang lain. Seberapa banyak luka yang telah timbul karena sikapku, ucapanku? Apa sebanding dengan sakit yang kurasakan karena kehilangannya dan penolakan dirinya atasku?
Kehilangannya membuatku sedikit terpuruk. Ya, Cuma sedikit, tidak akan ku akui betapa dalamnya luka yang dia torehkan. Walaupun pada kenyataannya, malam-malam yang kulalui kini penuh dengan lamunan dan kebingungan. Tanpa dirinya, kurasakan sendiri, aku, dengan sikap yang seperti ini, telah kehilangan teman begitu lama, jauh dari keluarga. Aku hanya berusaha menjaga diriku. Tidak ingin terluka, hanya menorehkan luka di hati orang lain. Seberapa banyak luka yang telah timbul karena sikapku, ucapanku? Apa sebanding dengan sakit yang kurasakan karena kehilangannya dan penolakan dirinya atasku?
Hatiku menangis, kelemahan membuatku menjadi orang yang begitu bodoh. Ketakutan membuatku menerima akibat yang lebih dari itu. HIdup sendiri, tak ada yang mencintaiku, tak ada yang peduli padaku. Perlahan tapi pasti, aku menghancurkan diriku, menghancurkan kehidupanku. Kukuatkan diriku, berusaha memperbaiki semuanya. Aku mulai mencari Tuhan, aku tahu, hanya melalui-Nya aku bisa memulai lembaran baru dihidupku.
Mulutmu harimaumu, memang itu kenyataannya. Aku menjadi manusia yang lebih baik. Caci maki jauh dari hidupku sekarang, mulut ku gunakan untuk memuliakan nama-Nya. Aku mulai membuka hatiku untuk menemukan DIa dan menjadikan-Nya sebagai jalan dalam kehidupanku. Menjadi pria kuat bukan berarti aku harus melontarkan kata-kata kasar, harus bisa menyakiti. Aku menyadari itu semua, karena malaikatku. Dia menyadarkanku dan membuatku mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya. Walau kini aku tak menghabiskan malam dengan meneleponnya. Dia tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku, dan semoga dia bisa menjadi masa depanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar