Selasa, 23 November 2010

CINTA ITU....................


Cinta itu…..
Berawal dari sebuah ketertarikan kecil sebagai benihnya
Yang terbina, tumbuh menjadi besar, dan berbuah cinta

Cinta itu…..
Dimana kau menjadi pendengar saat dia bercerita
Dimana kau menjadi pembicara saat dia dalam kebimbangan
Dimana kau menjadi bahu saat dia menangis tersedu-sedu
Dimana kau menjadi pemikir saat dia membutuhkan sebuah jalan

Cinta itu…..
Adalah masa-masa dimana perbedaan saling melengkapi
Adalah masa-masa untuk saling memberi dan menerima kasih
Adalah masa-masa untuk kau dan dia saling menghangatkan
Adalah masa-masa untuk kau dan dia saling menghapus air mata

Cinta itu…..
Kau tersenyum saat dia bahagia
Kau tertekan saat dia menderita
Kau kuat saat dia lemah
Kau bangkit saat dia tak berdaya

Cinta itu……
Dimana kau yakin, hidupmu adalah untuk membahagiakannya
Dimana kau yakin, senyumnya sangat berarti dihidupmu
Dimana kau yakin, kau mampu mengorbankan segalanya untuk dia
Dimana kau yakin, dalam dekapannya kau temukan kenyamanan

Cinta itu………
Takkan pernah habis untuk diungkapkan
Takkan pernah terukur dengan alat apapun

Cinta itu…
Adalah sebuah keyakinan tentang dia
Adalah sebuah harapan dan mimpi bersamanya

Senin, 22 November 2010

MULUTMU HARIMAUMU (part 2)

Pengeluaranku untuk berbicara dengannya kuanggap sebagai upaya penghamburan uang untuk sebuah kepuasan. Ya, walau hanya berbicara dengannya, tapi ada rasa nyaman karena aku bisa berbagi cerita dengan seseorang tanpa ada upaya untuk menjerat hatinya. Segala keburukanku pun  sudah diketahui olehnya, dan dia tetap bisa berteman denganku. Aku ingat ucapannya, pada dasarnya dalam diri manusia ada sisi baik dan jahatnya, tergantung manusia itu sendiri menonjolkan sisi mana dari dirinya. Tanpa aku sadari, pelan-pelan dia menjadi malaikat dalam kisah kehidupanku.
Malam-malam yang kulewati dengan mendengar suaranya membuatku melalui hari dengan begitu cepat. Tak terasa, waktu yang kuukir bersamanya membuatku terperangkap dalam kenikmatan. Suaranya menjadi semangat untuk melalui hari-hariku, bersamanya, aku tak merasa sendiri.  Entah pembicaraan apa yang selalu kami bagi berdua. Kegiatanku sehari-hari, cerita masa laluku, pemikiran dan impianku, semua kubagikan untuknya. Dia, selalu menjadi seorang pendengar setia, penghibur dikala aku sedih dan sepi, penyemangat dikala aku terpuruk, dan pembicara dikala aku membutuhkan cerita.
Roda kehidupan pada akhirnya selalu berputar, rasa nyaman yang aku miliki selama bersamanya mencapai sebuah titik terendah. Aku mengucapkan sebuah kalimat yang ternyata begitu menyakiti hatinya. Kalimat yang kulontarkan hanya untuk membuat tawa hadir di sela pembicaraan kami. Aku merasa tak ada perbedaan ucapanku kali ini dengan biasanya. Kenapa dia malah marah dan memintaku untuk tak lagi berbicara dengannya jika aku tak merubah sikapku? Selama ini dia bisa menerima aku yang apa adanya. Kenapa? 
Malam-malam tanpa bicara dengannya, tanpa bercanda dengannya membuatku terperangkap dalam rasa sepi yang berkepanjangan. Tanpa kusadari dia telah masuk ke dalam hatiku, dan sekarang, dia telah membuat keretakan di sana sini pada hatiku. Ingin aku membencinya, tapi apa rasa benci itu bisa mengembalikan keretakan menjadi utuh? Aku rasa tidak. Apa benar jika aku mempersalahkan dia karena dia yang tak bisa menerimaku apa adanya seperti dulu, atau aku yang mulai keterlaluan?
Kurebahkan tubuhku di atas kasur single tempatku melepas lelah.  Aku menerawang, memusatkan pikiranku yang berkecamuk mengenai dirinya. Sebenarnya apa dirinya bagiku? Apa arti kehadirannya dalam hidupku? Setelah dia tak lagi menerima aku yang seperti ini, apa aku harus menganggapnya sebagai malaikat pencabut nyawaku? Malaikat jahat yang telah berpura-pura manis dan masuk ke dalam hatiku, kemudian dengan kejamnya mengoyak hatiku hingga tak lagi berbentuk. 

Kehilangannya membuatku sedikit terpuruk. Ya, Cuma sedikit, tidak akan ku akui betapa dalamnya luka yang dia torehkan. Walaupun pada kenyataannya, malam-malam yang kulalui kini penuh dengan lamunan dan kebingungan.  Tanpa dirinya, kurasakan sendiri, aku, dengan sikap yang seperti ini, telah kehilangan teman begitu lama, jauh dari keluarga. Aku hanya berusaha menjaga diriku. Tidak ingin terluka, hanya menorehkan luka di hati orang lain. Seberapa banyak luka yang telah timbul karena sikapku, ucapanku? Apa sebanding dengan sakit yang kurasakan karena kehilangannya dan penolakan dirinya atasku? 
Hatiku menangis, kelemahan membuatku menjadi orang yang begitu bodoh. Ketakutan membuatku menerima akibat yang lebih dari itu. HIdup sendiri, tak ada yang mencintaiku, tak ada yang peduli padaku. Perlahan tapi pasti, aku menghancurkan diriku, menghancurkan kehidupanku.  Kukuatkan diriku, berusaha memperbaiki semuanya. Aku mulai mencari Tuhan, aku tahu, hanya melalui-Nya aku bisa memulai lembaran baru dihidupku. 
Mulutmu harimaumu, memang itu kenyataannya. Aku menjadi manusia yang lebih baik. Caci maki jauh dari hidupku sekarang, mulut ku gunakan untuk memuliakan nama-Nya. Aku mulai membuka hatiku untuk menemukan DIa dan menjadikan-Nya sebagai  jalan dalam kehidupanku. Menjadi pria kuat bukan berarti aku harus melontarkan kata-kata kasar, harus bisa menyakiti. Aku menyadari itu semua, karena malaikatku. Dia menyadarkanku dan membuatku mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya. Walau kini aku tak menghabiskan malam dengan meneleponnya. Dia tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku, dan semoga dia bisa menjadi masa depanku. 

MULUTMU HARIMAUMU (part 1)


Sering sekali aku mendengar salah satu peribahasa yang diungkapkan orang-orang untuk mengingatkan agar kita menjaga sikap dan tingkah laku kepada orang lain. “Mulutmu adalah harimaumu”,  ya, peribahasa yang perlu untuk direnungkan.

Aku mengalaminya, menjalani kehidupan tanpa pernah bisa menjaga ucapan yang terlontar dari mulutku. Aku memaki, aku menghina, semua kata-kata kasar yang selalu kuucapkan sejak aku menapaki kehidupan sosialku. Maaf saja ya, jangan dulu kalian berpikiran buruk. Di rumah, keluargaku tak pernah mengajarkan kata-kata kasar padaku, bahkan kedua kakak perempuanku yang cantik selalu berbicara dengan sangat sopan. Aku tidak yakin ada kosakata kasar yang terangkum di kamus berbahasa kedua kakakku. Pujian selalu terlontar setiap kali Mama hadir di pesta maupun di acara keluarga besar kami.

Ya, kedua kakakku yang berbeda dari diriku. Entah apa titik balik yang mengubah aku menjadi seorang pribadi yang identik dengan sifat buruk dan mulut pedas layaknya remaja yang tidak pernah duduk dan menikmati waktu untuk menimba ilmu.  Tapi yang kutahu, aku berusaha mengenakan topeng itu agar aku terbebas dari rasa lemah, takut, dan ketidakberdayaan dalam hidup. Aku ingin menjadi pria kuat yang dapat bertahan dalam kehidupanku. Aku tidak ingin seorangpun masuk dan melukai hatiku. Aku ingin hatiku tetap utuh tanpa ada keretakan sedikitpun.

Sampai suatu saat, aku yang telah menjalani kehidupan seperti ini begitu lama mulai terusik oleh kehadirannya. Seorang wanita biasa, tidak terlalu menarik tapi tak juga jelek, dia wanita standar dengan tampang pas-pas an. Tanpa sengaja aku bertemu dengannya, dia adalah teman dari teman smp yang lama tak pernah kutemui.  Kami bertemu di salah satu mall ternama di Jakarta. Dari sanalah aku mengenalnya, sejak itu hubungan kami berlanjut lewat dunia maya, facebook, dan telepon sekedar menghabiskan waktu malamku.

Aku mulai terbiasa berbicara dengannya di telepon, aku menikmati saat dimana aku memberi komentar di status facebooknya. Walau kata-kata yang ku tulis kasar dan sedikit melecehkan, dia tak pernah marah padaku. Teleponku selalu disambut denga tawa ceria darinya. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk meneleponnya, walau pada akhirnya, tagihan teleponku membengkak karena penyedia jaringan telepon kami berbeda. Mau tak mau aku harus merogoh kantongku dalam-dalam.

Selasa, 09 November 2010

MY PERFECT MAN


My perfect man, judul dari sebuah novel yang ditulis oleh temanku, Shiny Zhen. Btw, siapa sih yang ga punya impian mengenai “Perfect Man” dalam hidupnya? Bahkan para pria pasti juga memiliki impian mengenai “Perfect Woman”.

My Perfect Man:
  1. Pinter
  2. Baik
  3. Dewasa
  4. Mapan
Dan segudang embel-embel lainnya, semua yang positif kita inginkan ada pada perfect man. Tapi bisakah?? Karena pada kenyataannya, ga da yang sempurna di muka bumi ini. Tuhanlah satu-satunya yang maha sempurna.

Sebenarnya bukan pada bagaimana seseorang itu bisa lulus kualifikasi perfect dimata kita, tapi bagaimana kita bisa menerima ketidaksempurnaan itu kemudian melengkapinya. Pada akhirnya dia juga akan menjadi perfect man dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Just love him as who he is.
Jadi masih maukah kamu menunggu sampai pria sempurna itu datang ke hadapanmu? Atau, terima dan sempurnakan pria yang telah hadir dan mengetuk pintu hatimu walau dia tidak sesempurna ur perfect man?? Be wise n think it. ^^

JATUH CINTA: Taik kucing pun rasa coklat

JATUH CINTA....
Ada pepatah yang mengatakan saat jatuh cinta, taik kucing pun rasa coklat.
Awalnya aku juga tidak percaya dengan pepatah seperti itu. Bagaimana mungkin taik kucing bisa berasa coklat?? (lebay mode on).
Hahahaahaha, namanya juga pepatah, ya pasti berupa perumpamaan aja.
Jika aku mulai nge flash back apa yang terjadi dihidupku, pada orang-orang disekitarku, aku mulai menyadari dan paham betul kalau jatuh cinta emang bisa ngebuat taik kucing berasa coklat.
Sakit dan sedih karena jatuh cinta bisa terganti karena kebahagiaan dicintai. Bahkan, hal yang tidak boleh dilakukan pun malah kita lakuin dengan santainya dikarenakan kita jatuh cinta. Banyak banget hal-hal yang terjadi di sekitar kita karena cinta.
Ada yang bunuh diri karena cinta di tolak, ada yang ngebunuh karena cinta ditolak (Upsss, asli sadis banget tuh, jangan ditiru!!!).
Pokoknya semua begitu deh, ^^
Sebuah kejadian mengajarkan aku kalau apa yang kita yakini sebagai "CINTA" membuat kita bisa buta, ga tau mana yang benar dan salah. Rasa ketertarikan adalah tunas di mana cinta akan tumbuh dan menjadi sebuah pohon rindang yang penuh dengan buah. Buah-buah manis itu berasa kebahagiaan, impian, harapan, kebersamaan, rasa saling memiliki, dan kebutuhan akan satu sama lain.
Buah begitu segar jika kita biarkan tanpa di panen pada akhirnya juga akan membusuk, pohon yang tidak kita pelihara dengan baik pada akhirnya juga akan mengering dan mati. Ibarat itulah cinta, saat pohon cinta telah mati yang tersisa hanyalah rasa sedih dan kehilangan.
Upsss jadi melantur, kembali ke tema sebelumnya, "Jatuh cinta, tai kucing pun berasa coklat."
Awalnya rencana nulis disini dalam bentuk cerpen, tapi ya sudahlah. Sekali-kali nulis ngelantur ngelinndur aja. ^^
Nge Flash back kebodohan masa lalu nih.
Bisa-bisanya meyakini sesuatu sebagai "CINTA". Sampai ga tau apa yang benar dan salah. Bahkan sampai berpikir ga akan bisa hidup tanpa dia. Waw waw....
Parah kan?? Itu tuh yang namanya kekuatan pikiran atas sebuah cinta. Kalau diingat-ingat lagi, apalagi disaat sekarang, saat rasa yang dulu dianggap cinta telah menjadi kenangan, bisa mencak mencak sendiri, kok dulu segitunya ya? Sekarang ga berasa apa-apa lagi. Ga jelas banget jadinya. Jadi sebenarnya itu CINTA atau BUKAN?
Tapi.... saat itu, Hidup hanyalah sepenggal kisah dimana dia sebagai pusat kehidupan, nafas kehidupan, dan
tawa dalam kehidupan.
Saat ini, dia hanyalah orang yang pernah membuatku berpikir kalau dia adalah cinta sejati. 
Makin confuse aja ke mana arah tulisan ini...
Buat yang lagi JATUH CINTA, ingat!!!! Tetap gunakan akal, jangan hanya perasaan.
@@
Tamat, ^^

Senin, 08 November 2010

KISAH CINTA TAK SELAMANYA INDAH

"Entah apa yang kulihat darimu, tapi hatiku begitu yakin, kaulah cinta sejati di hidupku."
Lili

 Sebuah kisah tak terduga hadir dalam hidupku. Sebuah kisah cinta yang tak berakhir dengan indah, tapi kisah itulah yang mengajariku untuk mengenal arti cinta sejati. Cinta bagiku sulit untuk dimengerti, aku yang dari kecil harus hidup terpisah dari keluargaku begitu hampa dan kekurangan cinta. Aku hanyalah seorang gadis kampung yang hidup dalam sebuah keluarga besar dengan keuangan jauh dari kata mencukupi. Sejak kecil aku sudah terpisah dengan keluargaku, aku ikut tinggal dengan keluarga jauh dari Bapak di kota. Mereka berjanji pada Bapak untuk menyekolahkan aku hingga aku besar. Aku cukup membantu mereka untuk mengurusi rumah dan menemani mereka.
Usia yang baru menginjak delapan tahun membuat aku tak mengerti kerasnya sebuah kehidupan. Sebuah kamar di bagian belakang rumah menjadi tempat aku untuk melabuhkan badanku dan beristirahat. Sebuah kamar yang aku tempati 12 tahun lamanya. Kamar ukuran 2 x 3 m, sebuah kasur tua, bantal, dan guling yang melengkapinya. Aku disekolahkan hingga aku lulus dari bangku sekolah menengah. Aku lumayan berterima kasih pada Tuhan walau tak ada kebahagiaan yang aku temukan disini. Tapi apa yang akan terjadi jika aku masih berada di kampung bersama Bapak dan Ibu? Mungkin saat ini aku sudah menjadi istri kesekian dari juragan kaya yang selama ini menjadi penadah hasil kebun dari petani di kampungku. Juragan kaya yang sudah layak jadi kakekku, tapi masih saja suka mengoleksi wanita-wanita muda sebagai istrinya. Entah sudah berapa banyak istri yang dimilikinya, bahkan Bapak sudah tak mampu menghitungnya. 
"Untung kamu bisa sekolah disini, Nak. Kalau tidak mungkin nasibmu akan sama seperti teman-teman sebayamu waktu kecil dulu."
Aku memang termasuk beruntung untuk masalah itu. Tapi sayangnya Bapak dan Ibu tak tahu apa yang aku alami disini. Dua belas tahun aku mengalami penderitaan secara fisik dan mental. Menjadi benalu di keluarga orang lain sangatlah menyakitkan. Tidak di hargai, di maki-maki layaknya bukan manusia. Walau mereka tidak mempunyai anak, tetap saja aku begitu tak pernah disayangi sedikitpun. Bagi mereka aku benar-benar hanyalah seorang pembantu yang numpang makan, tidur, dan bersekolah.
Penyiksaan lahir batin yang kualami membuatku tumbuh menjadi seorang wanita yang minder. Aku merasa benar-benar hanya seorang manusia yang tak berharga. Di sekolah aku tak banyak memiliki teman. Aku selalu saja menyendiri, bahkan untuk menatap wajah guru-guru saat berbicara pun aku tak sanggup. Begitu kerdilnya diriku di hadapan mereka.
Sampai pada sebuah pertemuan yang tak pernah kuduga. Dia menabrakku dengan sepeda motornya saat aku menyebrangi jalan sepulang dari membeli sayur. Dia mengangkatku saat aku terbaring di aspal yang kasar.
“Kamu ga papa? Maaf aku ga sengaja. Yang luka mana? Aku bawa ke dokter ya?”
“Ga, ga papa kok. Cuma luka kecil. Makasih udah mau nolong aku.”
“Maaf ya, aku ceroboh sekali bawa motornya.”
Dia, seorang pria manis yang begitu santun. Umur tiga puluhan, kulit hitam manis dan pakaian yang sederhana. Dia memang terlihat sangat biasa, tapi ada sesuatu dari caranya menatapku yang membuatku merasa aman dan damai.
Awal kisah kami pun dimulai, dia menjadi pria tempat aku berkeluh kesah. Dia satu-satunya pendengar yang aku punya dalam hari-hariku. Rasa aman yang diberikan olehnya membuatku merasa nyaman saat bersamanya. Aku yang baru berumur 18 tahun dan masih belum tahu apa-apa mengenai pria begitu terbuai akan dirinya.
****
Semua kenangan tentang dia hadir kembali dalam ingatanku. Aku yang kini menjadi wanita malam dan menghabiskan waktuku untuk menemani pria hidung belang yang mencari kepuasan di luar rumah.
Kisahku dan dia berakhir saat istrinya memergoki kami bersama. Aku tak pernah berharap untuk menjadi orang ketiga dalam kehidupannya. Tapi apa aku salah jika aku ingin menikmati rasa cinta yang dicurahkannya padaku? Rasa cinta yang selama ini belum pernah aku temukan dari diri orang lain.
Rasa malu dan kesepianku membuatku berjalan ke dalam gelap. Aku yang kehilangan kontak dengannya harus bisa berjuang hidup di dunia yang kejam ini.  Aku yang dulunya keluar dari rumah yang selama 12 tahun aku tinggali akhirnya menetap disebuah rumah kontrakan yang dia sewakan untukku. Beberapa malam dalam seminggu dia selalu datang menemaniku, memberikan kedamaian dalam hari-hariku. Dia menjadi pegangan dalam hidupku selama itu. Tanpa dia berada disampingku, akupun kehilangan arah. Aku tak punya keahlian apa-apa selain menjadi pembantu. Walaupun lulus sekolah menengah aku tetap seorang wanita yang tidak punya rasa percaya diri sedikitpun menghadapi orang lain. Ya, selain dia tentunya.
Sekarang setelah tiga tahun berlalu, aku hanya bisa mengenangnya dan mengenang semua rasa yang pernah aku miliki untuknya. Bukan hanya pernah, bahkan sampai sekarang rasa itu selalu ada. Hanya dia yang aku bayangkan selama aku menjalankan profesi terkutukku. Hanya dia yang selalu mengisi semua sudut di hatiku. Walau aku tak pantas lagi untuk mencinta, setidaknya aku punya sebuah kenangan indah selama bersamanya. Kenangan indah dimana aku bisa mengenal sebuah cinta, dan aku percaya, dialah cinta sejatiku. Pada akhirnya, saat aku dipermalukan dan diusir oleh istrinya dari kontrakan itu. Aku bertemu dengan Mami yang akhirnya mempekerjakan aku disini. Aku memang tak lagi berpengharapan saat itu, sampai dengan mudahnya aku mengikuti Mami dan menjadi salah satu anaknya.
****
The end

Minggu, 07 November 2010

Maaf


Maaf....
Jika kisah kau dan aku berakhir seperti ini
Jika kau dan aku kini tak lagi sejalan
Karena cintaku tak semegah dan sekokoh yang ku ingini
Karena nyatanya semua rasa itu telah terlupakan...

Maaf….
Bukan maksud dan inginku
Melupakan semua kisah kita
Aku yang kini, tak mengharapkanmu
Aku yang kini, tak lagi mencinta

Maaf…
Kau hanya sepenggal kisah dalam hidupku
Yang telah berlalu dan tergantikan
Maaf….
Karena waktu yang telah mengajariku
Untuk berjalan dan meraih masa depan