"Entah apa yang kulihat darimu, tapi hatiku begitu yakin, kaulah cinta sejati di hidupku."
Lili
Sebuah kisah tak terduga hadir dalam hidupku. Sebuah kisah cinta yang tak berakhir dengan indah, tapi kisah itulah yang mengajariku untuk mengenal arti cinta sejati. Cinta bagiku sulit untuk dimengerti, aku yang dari kecil harus hidup terpisah dari keluargaku begitu hampa dan kekurangan cinta. Aku hanyalah seorang gadis kampung yang hidup dalam sebuah keluarga besar dengan keuangan jauh dari kata mencukupi. Sejak kecil aku sudah terpisah dengan keluargaku, aku ikut tinggal dengan keluarga jauh dari Bapak di kota. Mereka berjanji pada Bapak untuk menyekolahkan aku hingga aku besar. Aku cukup membantu mereka untuk mengurusi rumah dan menemani mereka.
Usia yang baru menginjak delapan tahun membuat aku tak mengerti kerasnya sebuah kehidupan. Sebuah kamar di bagian belakang rumah menjadi tempat aku untuk melabuhkan badanku dan beristirahat. Sebuah kamar yang aku tempati 12 tahun lamanya. Kamar ukuran 2 x 3 m, sebuah kasur tua, bantal, dan guling yang melengkapinya. Aku disekolahkan hingga aku lulus dari bangku sekolah menengah. Aku lumayan berterima kasih pada Tuhan walau tak ada kebahagiaan yang aku temukan disini. Tapi apa yang akan terjadi jika aku masih berada di kampung bersama Bapak dan Ibu? Mungkin saat ini aku sudah menjadi istri kesekian dari juragan kaya yang selama ini menjadi penadah hasil kebun dari petani di kampungku. Juragan kaya yang sudah layak jadi kakekku, tapi masih saja suka mengoleksi wanita-wanita muda sebagai istrinya. Entah sudah berapa banyak istri yang dimilikinya, bahkan Bapak sudah tak mampu menghitungnya.
"Untung kamu bisa sekolah disini, Nak. Kalau tidak mungkin nasibmu akan sama seperti teman-teman sebayamu waktu kecil dulu."
Aku memang termasuk beruntung untuk masalah itu. Tapi sayangnya Bapak dan Ibu tak tahu apa yang aku alami disini. Dua belas tahun aku mengalami penderitaan secara fisik dan mental. Menjadi benalu di keluarga orang lain sangatlah menyakitkan. Tidak di hargai, di maki-maki layaknya bukan manusia. Walau mereka tidak mempunyai anak, tetap saja aku begitu tak pernah disayangi sedikitpun. Bagi mereka aku benar-benar hanyalah seorang pembantu yang numpang makan, tidur, dan bersekolah.
Penyiksaan lahir batin yang kualami membuatku tumbuh menjadi seorang wanita yang minder. Aku merasa benar-benar hanya seorang manusia yang tak berharga. Di sekolah aku tak banyak memiliki teman. Aku selalu saja menyendiri, bahkan untuk menatap wajah guru-guru saat berbicara pun aku tak sanggup. Begitu kerdilnya diriku di hadapan mereka.
Sampai pada sebuah pertemuan yang tak pernah kuduga. Dia menabrakku dengan sepeda motornya saat aku menyebrangi jalan sepulang dari membeli sayur. Dia mengangkatku saat aku terbaring di aspal yang kasar.
“Kamu ga papa? Maaf aku ga sengaja. Yang luka mana? Aku bawa ke dokter ya?”
“Ga, ga papa kok. Cuma luka kecil. Makasih udah mau nolong aku.”
“Maaf ya, aku ceroboh sekali bawa motornya.”
Dia, seorang pria manis yang begitu santun. Umur tiga puluhan, kulit hitam manis dan pakaian yang sederhana. Dia memang terlihat sangat biasa, tapi ada sesuatu dari caranya menatapku yang membuatku merasa aman dan damai.
Awal kisah kami pun dimulai, dia menjadi pria tempat aku berkeluh kesah. Dia satu-satunya pendengar yang aku punya dalam hari-hariku. Rasa aman yang diberikan olehnya membuatku merasa nyaman saat bersamanya. Aku yang baru berumur 18 tahun dan masih belum tahu apa-apa mengenai pria begitu terbuai akan dirinya.
****
Semua kenangan tentang dia hadir kembali dalam ingatanku. Aku yang kini menjadi wanita malam dan menghabiskan waktuku untuk menemani pria hidung belang yang mencari kepuasan di luar rumah.
Kisahku dan dia berakhir saat istrinya memergoki kami bersama. Aku tak pernah berharap untuk menjadi orang ketiga dalam kehidupannya. Tapi apa aku salah jika aku ingin menikmati rasa cinta yang dicurahkannya padaku? Rasa cinta yang selama ini belum pernah aku temukan dari diri orang lain.
Rasa malu dan kesepianku membuatku berjalan ke dalam gelap. Aku yang kehilangan kontak dengannya harus bisa berjuang hidup di dunia yang kejam ini. Aku yang dulunya keluar dari rumah yang selama 12 tahun aku tinggali akhirnya menetap disebuah rumah kontrakan yang dia sewakan untukku. Beberapa malam dalam seminggu dia selalu datang menemaniku, memberikan kedamaian dalam hari-hariku. Dia menjadi pegangan dalam hidupku selama itu. Tanpa dia berada disampingku, akupun kehilangan arah. Aku tak punya keahlian apa-apa selain menjadi pembantu. Walaupun lulus sekolah menengah aku tetap seorang wanita yang tidak punya rasa percaya diri sedikitpun menghadapi orang lain. Ya, selain dia tentunya.
Sekarang setelah tiga tahun berlalu, aku hanya bisa mengenangnya dan mengenang semua rasa yang pernah aku miliki untuknya. Bukan hanya pernah, bahkan sampai sekarang rasa itu selalu ada. Hanya dia yang aku bayangkan selama aku menjalankan profesi terkutukku. Hanya dia yang selalu mengisi semua sudut di hatiku. Walau aku tak pantas lagi untuk mencinta, setidaknya aku punya sebuah kenangan indah selama bersamanya. Kenangan indah dimana aku bisa mengenal sebuah cinta, dan aku percaya, dialah cinta sejatiku. Pada akhirnya, saat aku dipermalukan dan diusir oleh istrinya dari kontrakan itu. Aku bertemu dengan Mami yang akhirnya mempekerjakan aku disini. Aku memang tak lagi berpengharapan saat itu, sampai dengan mudahnya aku mengikuti Mami dan menjadi salah satu anaknya.
****
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar