Sering sekali aku mendengar salah satu peribahasa yang diungkapkan orang-orang untuk mengingatkan agar kita menjaga sikap dan tingkah laku kepada orang lain. “Mulutmu adalah harimaumu”, ya, peribahasa yang perlu untuk direnungkan.
Aku mengalaminya, menjalani kehidupan tanpa pernah bisa menjaga ucapan yang terlontar dari mulutku. Aku memaki, aku menghina, semua kata-kata kasar yang selalu kuucapkan sejak aku menapaki kehidupan sosialku. Maaf saja ya, jangan dulu kalian berpikiran buruk. Di rumah, keluargaku tak pernah mengajarkan kata-kata kasar padaku, bahkan kedua kakak perempuanku yang cantik selalu berbicara dengan sangat sopan. Aku tidak yakin ada kosakata kasar yang terangkum di kamus berbahasa kedua kakakku. Pujian selalu terlontar setiap kali Mama hadir di pesta maupun di acara keluarga besar kami.
Ya, kedua kakakku yang berbeda dari diriku. Entah apa titik balik yang mengubah aku menjadi seorang pribadi yang identik dengan sifat buruk dan mulut pedas layaknya remaja yang tidak pernah duduk dan menikmati waktu untuk menimba ilmu. Tapi yang kutahu, aku berusaha mengenakan topeng itu agar aku terbebas dari rasa lemah, takut, dan ketidakberdayaan dalam hidup. Aku ingin menjadi pria kuat yang dapat bertahan dalam kehidupanku. Aku tidak ingin seorangpun masuk dan melukai hatiku. Aku ingin hatiku tetap utuh tanpa ada keretakan sedikitpun.
Sampai suatu saat, aku yang telah menjalani kehidupan seperti ini begitu lama mulai terusik oleh kehadirannya. Seorang wanita biasa, tidak terlalu menarik tapi tak juga jelek, dia wanita standar dengan tampang pas-pas an. Tanpa sengaja aku bertemu dengannya, dia adalah teman dari teman smp yang lama tak pernah kutemui. Kami bertemu di salah satu mall ternama di Jakarta. Dari sanalah aku mengenalnya, sejak itu hubungan kami berlanjut lewat dunia maya, facebook, dan telepon sekedar menghabiskan waktu malamku.
Aku mulai terbiasa berbicara dengannya di telepon, aku menikmati saat dimana aku memberi komentar di status facebooknya. Walau kata-kata yang ku tulis kasar dan sedikit melecehkan, dia tak pernah marah padaku. Teleponku selalu disambut denga tawa ceria darinya. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk meneleponnya, walau pada akhirnya, tagihan teleponku membengkak karena penyedia jaringan telepon kami berbeda. Mau tak mau aku harus merogoh kantongku dalam-dalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar