Kamis, 26 Agustus 2010

MIMPI YANG TERTUNDA

Seorang gadis yang baru lulus kebingungan menentukan pilihan hidupnya. Banyak sekali keinginan yang muncul dibenaknya, dia pun mulai ragu. Keputusannya yang berubah-ubah hanya memberi kepuasan sementara. Dia tidak bisa mengerti walau seberapa besarpun usaha yang telah dilakukannya untuk menyelami hatinya. Si gadis selalu berkutat dalam kebingungan. Hal lain yang membuatnya tak bersemangat karena dia menyadari keputusan apapun yang dibuatnya hanya akan dilaluinya sendiri. Tidak ada yang peduli padanya. Lalu si gadispun menangis tersedu-sedu, dia meratapi setiap detik kehidupannya dimana tidak ada yang menuntun langkahnya. Tiba-tiba muncul kelip cahaya dihadapannya.
“Siapa kamu?” tanya si gadis dengan keterkejutannya.
“Akulah cermin perasaanmu dan aku yang akan menuntun langkah dalam hidupmu. Kamu tidak lagi sendiri, jadi jangan pernah bersedih dan meratapi kehidupanmu. Hidup sebenarnya indah kalau kamu memandangnya dari sisi yang berbeda.” Ternyata kerlap kerlip itu adalah sesosok peri kecil yang terbang mengitari si gadis.
“Lalu kamu berada dimana jika aku membutuhkanmu?”
“Aku berada jauh didasar hatimu.”
“Bagaimana bisa aku memanggilmu jika aku membutuhkanmu? Apa yang harus kulakukan jika aku kembali bersedih?”
“Panggillah aku, menyatulah dengan hatimu dan kamu akan menemukanku sayang. Kelak tidak ada kebimbangan lagi dalam hari-harimu. Asal kamu percaya bahwa aku ada, maka aku akan selalu menyertaimu.” Jawab sang Peri.
Si gadispun tertawa riang dan berkata pada sang peri, “Terimakasih peri. Aku pasti akan mencarimu didalam hatiku.”
Akhirnya sang peri pun menghilang dan si gadis mulai menjalani hari-hari seperti biasanya. Tanpa ada perubahan ataupun usaha untuk mengerti dirinya sendiri. Sampai suatu saat dia kembali terpuruk dalam kesedihan dan kebimbangan. Dia kembali menangis tersedu-sedu. “Peri dimanakah kau? Kau berjanji akan datang kepadaku jika aku membutuhkanmu. Sekarang aku sangat membutuhkanmu, tapi kenapa kau tak muncul dihadapanku?”
Tangisannya tak berhenti, begitu lama dan menyayat. Tapi kemudian diapun menyadari. Dia sendiri yang tidak pernah berusaha memahami hatinya. Bagaimana bisa dia menyatu dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia memahami apa yang harus dia lakukan. Bagaimana bisa dia lepas dari keraguan dan kebingungan di dirinya. Diapun berhenti meratap. Dia kemudian bertekad pada dirinya sendiri. Aku akan belajar memahami diriku sendiri, aku akan belajar mencintai diriku, aku akan belajar mengerti tentang Tuhan. Aku akan belajar untuk mencari kedamaian dalam hatiku.
Mimpinya memang sedikit tertunda, tapi bukan berarti mimpinya tidak dapat terlaksana. Manusia boleh terpuruk dalam kesedihan, tapi bukan berarti kita harus mengubur semua harapan kita dan tidak lagi berusaha.
Hiduplah dengan pengharapan, karena tanpa itu hidup pun takkan terasa hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar